Kamis, 07 April 2011

Kompetisi yang Hakiki

Sangat biasa di telinga, kita mendengar ukuran keberhasilan seseorang dilihat dari berhasil tidaknya dia menyelesaikan sekolah tinggi, membangun rumah berlantai 2, sudah punya kendaraan, punya pekerjaan tetap, dan hal-hal yang terobservasi oleh penglihatan semata. Saya masih bisa merasakan aura yang waww..ketika orangtua atau saudara-saudara memberi predikat "Hebat" pada orang-orang yang memenuhi kriteria tersebut. Disadari atau tidak...ukuran keberhasilan tersebut menjadi salah satu kriteria tetap bagi calon mertua dalam menilai calon menantunya (dan sebaliknya?). Hmmm..kriteria yang juga sering didengar adalah seiman...yang seringkali definisinya adalah ... tergantung yang bicara :)


Kemudian...sekitar tahun yang lalu, saya sempat terpikir, berapa banyak ya anak-anak yang ketika ditanya apa cita-citanya, dan mereka menjawab "Ingin masuk surga?". Tergelitik oleh rasa ingin tahu, saya lontarkan pertanyaan itu di status saya. Memang ada yang mengatakan, "Ada don, anak ustadzah saya bilang demikian..", tapi tidak banyak yang berkomentar...entah karena pertanyaan itu kurang menarik, entah karena yang membaca malu karena anaknya tidak termasuk yang demikian, entah karena "aahh, ndak perlu disebutlah anakku memang menjawab begitu, ntar jadi riya"... atau entahlah, saya sampai sekarang tidak tahu kenapa tidak banyak yang berkomentar. Sah-sah saja toh tidak berkomentar?

Kemudian, saya berpikir lagi.....ada seberapa banyak ya orang tua yang punya cita-cita agar anaknya menjadi penghuni surga? Waah... belum dijawab, tapi saya yakin... BANYAK pastinya..., lalu apa mereka sudah memberi teladan pada anaknya, atau paling tidak mengajak anaknya lah untuk bercita-cita menjadi penghuni surga? Hmmm...ini dia pertanyaan yang menggelitik untuk dijawab...tapi silakan dijawab sendiri-sendiri.

Pikiran-pikiran itu bolak balik di memori saya...seperti yang tidak mau beranjak dari tempatnya.
Suatu ketika, waktu saya sedang menyetir mobil sambil mendengarkan kaset kajian, saya merasa terinspirasi...mungkin itu suatu pencerahan yang agak telat, tapi what everlah..bagi saya itu sangat menghujam di hati. Saat itu, detik itu, saya kemudian menjadi paham betul apa yang disebut dengan kompetisi yang hakiki....waww....suatu kenikmatan bisa paham pada akhirnya.

Kompetisi yang hakiki ini (kalau tidak mau disebut tampak benang merahnya) membuka pikiran saya akan makna bersaing yang sebenarnya. Eh...sebentar... bukankah kita semua tidak mengingkari keberadaan hari akhir? .............. Begitu juga dengan keberadaan surga dan neraka? ................ Disadari atau tidak, dari sekian baaaaaaanyaaaaaaaak makhluk di atas bumi ini, hanya orang-orang pilihan yang akan mendapat rahmat Allah yang satu? Sekian baaaaanyaaaak makhluk di atas bumi ini, pada berebut untuk mendapat ampunan dari Allah yang satu? Berebut, bersaing, supaya menjadi juara (seperti di sekolah dulu)...menjadi orang-orang pilihan...untuk kehidupan yang final, kekal, abadi.....Apalagi namanya ini kalau bukan KOMPETISI yang HAKIKI....

Saya tidak akan bicara banyak...cumaaa...apa iya ukuran keberhasilan seseorang itu dilihat dari berhasil tidaknya dia menyelesaikan sekolah tinggi, membangun rumah berlantai 2, sudah punya kendaraan, punya pekerjaan tetap, dan hal-hal yang terobservasi oleh penglihatan semata?

Bagaimana menurut Anda........?


Ummu Abbas
Baiti jannati, 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar