Rabu, 15 Juni 2011

Berdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 2)


Berdakwah dengan Akhlak Mulia (Bagian 2)

Jun 15, 11
Perintah untuk Berakhlak Mulia
Sebagai agama sempurna yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia, tentunya Islam tidak melewatkan pembahasan akhlak dalam ajarannya. Begitu banyak dalil dalam al-Quran maupun Sunnah yang memerintahkan kita untuk berakhlak mulia. Di antaranya:
Firman Allah ta’ala tatkala memuji Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ”
Artinya: “Sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (Q.S. Al-Qalam: 4).

Juga sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ”
“Berakhlak mulialah dengan para manusia.” (H.R. Tirmidzy (hal. 449 no. 1987) dari Abu Dzar, dan beliau menilai hadits ini hasan sahih).

Apa itu Akhlak Mulia?
Banyak definisi yang ditawarkan para ulama, di antara yang penulis anggap cukup mewakili:
“بَذْلُ النَّدَى، وَكَفُّ الْأَذَى، وَاحْتِمَالُ الْأَذَى”
“Akhlak mulia adalah: berbuat baik kepada orang lain, menghindari sesuatu yang menyakitinya dan menahan diri tatkala disakiti.” [Lihat: Ikhtiyar al-Ûlâ fî Syarh Hadîts al-Mala' al-A'lâ karya Imam Ibn Rajab, sebagaimana dalam Majmû' Rasâ'il al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbaly (IV/44) dan Madârij as-Sâlikîn karya Imam Ibn al-Qayyim (II/318-319)].

Dari definisi di atas kita bisa membagi akhlak mulia menjadi tiga macam:
  1. Melakukan kebaikan kepada orang lain. Contohnya: berkata jujur, membantu orang lain, bermuka manis dan lain sebagainya.
  2. Menghindari sesuatu yang menyakiti orang lain. Contohnya: tidak mencela, tidak berkhianat, tidak berdusta dan yang semisal.
  3. Menahan diri tatkala disakiti. Contohnya: tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa.
-bersambung insya Allah-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar